...........:Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.....

04 Oktober 2007

Mulailah Mendongeng, Sekarang Juga!

Kita musti mengakui bahwa sejak jaman dahulu, dongeng sangat disukai. Baik bagi orang dewasa yang membawakan dongeng maupun bagi anak sebagai pendengar dongeng. Begitu menarikkah dongeng bagi kita? Tentu saja, karena anak dan orang tua sama-sama dapat memetik manfaat yang tak terkira ketika dongeng di bacakan. Manfaat buat orang tua adalah mendapatkan kedekatannya dengan buah hati yang pasti sangat berbeda dengan aktifitas lainnya. Boleh dicoba ketika kita merencanakan untuk pergi tamasya sekeluarga agar kita dekat dengan anak. Memang, akan terjadi kedekatan orang tua dan anak saat jalan-jalan tamasya. Namun disisi lain sebenarnya anak ketika itu akan melupakan orang tuanya, karena anak dihadapkan pada sebuah object permainan-permainan yang menggiurkan dan pemandangan yang mengasyikan. Orang tua hanya akan menjadi pengasuh dan pembimbing agar anak tidak menemui bahaya. Nah sekarang boleh dicoba dengan mendongeng. Setelah orang tua memahami isi cerita dan tokoh yang ada dalam dongeng. Anak senantiasa merasakan emosi yang sedang bergejolak pada dongeng yang di bawakan orang tua. Anak akan tertawa ketika melihat sang ayah atau ibu melucu ketika sedang beraksi pada penokohan. Kadang anak akan ikut marah, sedih atau bahkan ikut merasa kesal. Dia akan ikut merasakan emosi yang sedang dibawakan oleh orang tuanya. Disisi lain, anak akan memetik pelajaran dari nilai-nilai akhak dongeng yang didengarkan tanpa merasa digurui. Kenapa tanpa digurui? Terang saja dong. Coba saja ingat-ingat, berapa sering kita mengatakan “jangan nak...” ketika anak melakukan sesuatu yang menurut kita tidak baik. Dan coba ingat-ingat respon anak terhadap instruksi “jangan”. Anak akan merasa terbatasi ruang geraknya. Apakah anak akan melawan, atau anak akan berhenti karena takut. Dengan tutur kata melalui dongeng, secara tidak langsung anak akan tertanam nilai-nilai kebenaran. Dengan catatan muatan materi dongengnya juga harus benar. hehe...

Dongeng selain mengenalkan nilai akhak, juga mengembangkan cakrawala imajinasi dan kecerdasan emosional dan tentu saja ada hal yang penting seperti yang kita bahas diatas, bahwa akan terjalin kedekatan orang tua dan anak.

Dongeng juga dapat menjadi jurus pamungkas orang tua untuk mendiamkan anak yang sedang rewel. Hal ini sering saya lakukan pada anak-anak saya. Ketika anak saya rewel tentang permintaannya, saya langsung mengambil boneka dan mulai menyanyi dihadapannya tanpa memanggilnya. Ketika anak saya merespon, saya manfaatkan kesempatan itu untuk membuat dialog satu boneka dengan boneka yang lain. Dan ketika sanak saya sudah mulai diam, kesempatan akan saya pergunakan mengembangkan materi cerita yang mengarah kepada persoalan yang menyebabkan anak saya rewel. Berhasil? Alhamdulillah... 85% setiap saya melakukan hal itu selalu berhasil. Dan lalu saya berfikir. Kenapa saya harus mendongeng dan tidak marah saja ya? Hehe.... jawabannya sangat mudah. Anak kecil tetap bukan orang dewasa. Mangkanya kalau ada orang dewasa yang suka menyerah terhadap suatu keadaan yang menimpanya, kita katain aja “anak kecil” hehee... maaf, saya tidak mengatai anda lo. Yang pasti anak sangat peka terhadap naluri atas perasaannya pada saat itu. Tugas kita adalah menangkap gejolak perasaan yang sedang berkecamuk pada anak. Persoalan kita turutin atau tidak permintaan sang anak itu nomor dua. Yang pasti anak harus menerima informasi yang baik dan benar dengan cara yang tidak menggurui dan tidak memaksa. Untuk itu bisa menggunakan metode saya tadi, mendiamkannya dengan penokohan boneka binatang dengan muatan edukasi yang mengarahkan bahwa permintaannya tadi sangat tidak mungkin untuk kita turuti.

Pengalaman yang masih saya kenang sampai saat ini adalah, ketika anak pertama saya Naufal yang saat itu berusia 7 tahun marah besar dan menangis karena adiknya yang berusia 3 tahun menyobek buku gambarnya. Naufal berteriak-teriak sambil memukul tangan adiknya seraya berkata “Buang saja anak nakal kayak gini”. Sayapun langsung menstater motor dan menggendong naufal untuk saya ajak jalan-jalan mengendarai motor. Bersamaan naufal yang masih terus menangis tersedu diatas motor saya terus berfikir tentang cara yang baik untuk memberikan informasi pada Naufal. Ketika motor melaju perlahan melintas jalan raya, saya melihat anak seusia naufal berjalan sendiri melintasi jalan raya dengan pakaian yang kumal. Sayapun menepi dan menstandarkan motor saya. Saya Dapat Ide!! Mulailah saya beraksi. Sambil telunjuk saya arahkan kepada anak yang melintas tadi saya bertutur, “Kasihan sekali anak itu ya.... Ayah yakin, dahulunya anak itu seperti naufal yang tinggal bersama orang tuanya. Namun karena mungkin ayahnya jahat, anak itu lalu ‘dibuang’ dijalan. Ehm.... lalu dia tidak lagi punya orang tua. Kau lihat, dia menjadi pengemis untuk mencari makan. Yuk kita doakan semoga anak itu bisa ketemu dengan orang tuanya...” saya terus bertutur. Dan di ending cerita, saya berucapap lagi, “Kita buang saja adik biar seperti dia yuk?” Dengan cepat naufalpun menjawab. “Jangan Ayah. Kasihan adik kalau dibuang nanti bisa jadi pengemis”. Tampak dimatanya, Naufal telah memaafkan adiknya.ALasan yang sangat sering saya jumpai ketika saya berdiskusi dengan orang tua di beberapa Taman Kanak-kanak seusai mendongeng adalah bahwa mereka (orang tua) sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sayapun berujar, "Ehm... sehebat apakah kita mencari duit selama satu minggu full 24 jam?" Merekapun tersenyum.

Alasan lainnya, mereka belum biasa. "Ah.. kalau yang ini saya bertanya balik. "Kapan Anda akan mulai mencoba? Maka yang terjadi adalah kebiasaan akan timbul dengan sendirinya".

Selamat Mencoba

02 Oktober 2007

Dongeng di Yayasan Al-Furqon










Matahari perlahan menuju barat,
Semilir angin laut perlahan menerpa
kepolosan bocah-bocah pantai bermain bola
menunggu tenggelamnya senja.
Mereka menghambur kepelukanku,
Ketika kuberikan hadiah senyuman.
Pagi mereka sudah penat dengan bangku sekolah
Kini saatnya bermain melepas tawanya.
Kurasa hadiah senyumku belum mengobati kerinduannya
Akupun mencoba berbagi cerita bersamanya.
(Mauk, 2 Oktober 2007)


Hari ini saya menemani anak-anak di Yayasan Al-Fuqon, yang terletak di Jalan Sangrila Indah No. 5, Buaran Asem, Tanjung Anom, Kabupaten Tangerang. Mulai pukul 16.30 S/D 17.30 Wong Awam bermain edukasi yang kemudian berlanjut memberikan Dongeng. Lebih kurang 100 anak memenuhi ruangan yang terdiri murid Madrasah Ibtidaiyah dan Raudhatul Athfal (RA).

Tentu saja mereka sangat antusias dengan dongeng yang saya berikan, dan bagi saya merupakan pengalaman tersendiri bisa berbagi cerita dihadapan anak-anak pantai yang ternyata sangat pandai. Hal ini saya buktikan ketika mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan bahasa Inggris dan bahasa arab. Jawaban lantang mengalahkan suara Sound System yang ada. Luar Biasa.

Yayasan AL-FURQON yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah, SMP dan SMU, pada tahun 1998, semula hanya sebuah madrasah kecil yang dikelola secara informal ini didirikan oleh Buety Nasir. Beliau memiliki cita-cita untuk mengabdikan diri sepenuhnya bagi pendidikan.

Keberadaan sekolah yang didirikan Buety Nasir di Kecamatan Mauk ini diarahkan oleh Buety Nasir menjadi sebuah lembaga pendidikan yang peduli dengan kualitas SDM anak-anak kampung. Buety Nasir berharap mereka menjadi anak-anak yang unggul ilmu pengetahuan dan tinggi kualitas religiusnya.

Sosialisasi pendidikan madrasah aktif dilakukan Buety Nasir dan istrinya, Siti Romlah. Buety Nasir berkeyakinan, bahwa metode pendidikan yang cocok dengan karakter Banten adalah pendidikan yang berbasis madrasah.

Pak Buety, Semoga amal usahamu senantiasa dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat serta menjadi contoh berharga untuk kita semua. AMIN.

21 September 2007

Safari Dongeng Ramadhan di McDonald's

Ini dia, hari pertamaku mendongeng di acara Safari Dongeng Ramadhan (Sadora) yang diselenggarakan oleh McDonald's. Jadwal pertamaku jatuh di wilayah BSD Tangerang. Pesertanya adalah adik-adik dari Taman Kanak-kanak dan Yayasan Yatim Piatu. Berkesankah? Tentu saja sangat berkesan. Karena mereka melebur alias bercampur baur. Tidak ada sombong-sombongan dengan status sosial mereka. Kita patut contoh tuh anak-anak.

Kesempatan itu aku pergunakan untuk memberikan cerita yang bertajuk “si miskin penyabar yang akhirnya menjadi kaya raya”. Senang sekali aku bisa berbagi cerita bersama mereka. Maklum, karena aku sendiri sudah lama off mendongeng sejak bulan juni 2007 yang lalu, karena harus mempersiapkan kantor Durasi Production.


Aku sudah menyiapkan berbagai judul cerita untuk mendongeng di McDonald's di wilayah-wilayah lainnya. Adik-adik sebaiknya datang juga ya. Berbuka bersama di McDonald's sekaligus mendengarkan cerita dari Wong Awam. Seru deh. Silahkan pilih mau bergabung di McDonald's BSD yang sesi kedua tanggal 25/09/07, atau di McDonald's Cilandak tanggal 26/09/07, atau di McDonald's Bintaro tanggal 27/09/07, atau di McDonald's Plasa Bogor tanggal 29/09/07. Jadwal lainnya nanti menyusul deh. Sampai ketemu lagi ya.

20 September 2007

Berbagi Cerita Bersama Keluarga

Aku ingin bertutur tentang anak-anakku. Dia adalah Naufal dan Miqdad. Naufal yang saat ini berusia 8 tahun sedari kecilnya tergolong anak yang tidak banyak bicara dan cenderung kutu buku. Berbeda dengan Miqdad sang adik yang masih berusia 4 tahun, adalah anak yang lincah, lucu dan cerewet. Miqdad hampir sama dengan diriku, sang Ayah yang gemar sekali tampil dan menghibur di depan orang. Namun keduanya sangat membesarkan hati aku dan istriku, karena mereka adalah anak yang penuh pengertian dan bukan tipe anak yang suka ngambek.

Setiap hari tiada pernah kulewatkan masa berkumpul bersama istri dan ketiga anakku. Baik sebelum berangkat ke kantor maupun setelah pulang dari kantor. Aku membuat sebuah ritual kecil, yaitu ritual berbagi cerita bersama keluarga. Yang kami lakukan dikamar Naufal dengan buku-buku cerita yang memang telah aku kumpulkan baik dari membeli maupun mencari di internet kemudian aku cetak dan aku julid sendiri. Jumlahnya sudah cukup banyak. Acara akan dimulai dari sang Ayah membacakan cerita, disusul oleh Sang Bunda dan kemudian Naufal. Berbeda dengan yang lain, Miqdad yang belum bersekolah tetap tidak mau tertinggal. Ia tetap tampil di depan dan mulutnya komat-kamit seperti membacakan sebuah cerita, padahal bukunyapun terbalik.

Semua punya gaya dan karakter bercerita sendiri-sendiri. Aku yang memang pernah mengeyam dunia teater semasa kuliah dulu, dan kini memiliki jadwal lumayan padat mendongeng di berbagai tempat, lebih matang dalam membawakan cerita. Istriku tidak ada yang istimewa, Sambil menggendong si kecil “Hilmiy” yang kini masih berusia 6 bulan terlihat biasa dalam bertutur cerita. Ia lebih menonjolkan kelembutannya sebagai seorang Ibu. Naufal biasa dalam bertutur cerita, dimana Ia tidak pernah mau melepaskan pandangannya dari buku. Seperti memang tidak mau membagi cerita kepada penonton. Ia terlihat menikmati sendiri isi cerita. Hanya saja sesekali Ia berhenti dan menatap lurus kedepan seraya manggut-manggut. Sepertinya Ia memikirkan tentang sesuatu. Si Miqdad tidak mau kalah, dia terus saja bertutur dengan buku cerita yang tidak ada tulisannya. Hanya gambar yang ia terjemahkan dalam sebuah cerita. Lumayan menarik, dan membuat kami tertawa karena cara membawakannya memang lucu.
Terus terang Aku sangat menikmati acara berbagi cerita bersama keluargaku. Terutama Kalau hari Sabtu dan Minggu akan menjadi lebih meriah. Karena pesertanya lebih banyak. Dimana ketika aku tidak memiliki jadwal mendongeng diluar, Naufal dan Miqdad mengumpulkan teman-temannya untuk ikutan mendengar cerita kami. Kegembiraan anak-anak lewat tawanya sangat bersuka ria. “Begitu bahagia mereka”, pikirku. Aku bisa merasakan mereka sangat takjub dengan adegan demi adegan yang aku lakonkan. Aku semakin bersemangat, karena selain mereka terhibur, melalui dongeng yang kubawakan sebisa mungkin aku menanamkan nilai-nilai akhlak luhur, dan membebaskan imajinasi mereka menembus cakrawala. Mereka pasti akan tersihir untuk menjadi anak yang cerdas dan berwawasan. Tampak jelas, bahwa mereka tidak ada yang datang karena pura-pura menjadi anak sok suka dongeng seperti kebanyakan orang-orang dewasa yang datang ke musholla biar dikata sok alim. Hehehe….. Tapi dari semua itu, yang terpenting buatku adalah, bahwa aku merasakan kedekatanku terjalin erat dengan mereka, terutama Naufal, Miqdad dan istriku.

Berbagi cerita bersama keluargaku adalah salah satu cara yang lumayan ampuh untuk menjalin kedekatan batiniyah. Ah… itu hanya salah satu kok, Cara lain masih banyak. Hehee, silahkan dicari yang pas saja. Yang penting tujuannya sama. Harapanku, dengan cara berbagi cerita bersama keluargaku, Naufal dan Miqdad mendapatkan arahan tanpa merasa aku gurui, karena aku tetap mengarahkan pada sebuah tontonan yang menghibur, hanya saja sarat akan pesan-pesan moral. Soalnya tau sendiri kan, anak kalau dibilangin secara langsung sulitnya minta ampun. Tentunya aku juga sering mengalaminya. Mungkin karena Naufal dan Miqdad sudak BT belajar disekolah dan dirumah, belum lagi harus ngerjain PR, ikut les ini itu dan persoalan-persoalan lain. Karena bukan orang dewasa saja yang punya masalah kan?.
Oh iya, naufal juga sekarang gemar membaca lo. Kalau Miqdad masih suka sok suka membaca. Hehe… miqdad emang lucu.

10 September 2007

Susun Langkah Baru

Telah satu putaran cakra terlewati.
Telah pula aku galang kebersamaan,
yang nantinya akan memaniskan setiap langkah.
Tak ada ketersingkiran diantara aku dan mereka.
Namun sepertinya rasa mereka mencoba menjauh dari asa
Yang kubangun dan kutata untuk semua,
Justru mereka binasakan dengan tidak memperdulikan cinta.

Ah… tutup saja lembarannya.
Kau rajutlah sendiri benang-benangmu
Dan siapkan dirimu untuk memetik bunga
Karena aku juga siapkan diriku merangkai kata
Untuk dapat memetik bintang
Yang nantinya kan kupersembahkan untuk semua

Ini dia hidup! Memaksa untuk memilih.
Pilihan yang mudah atau yang sulit,
Adalah hal yang pastinya selalu menyertai
dalam perjalanan hidup ini.

Selamat berkarya
Semoga sukses menyertai kita semua.